Relevansi Kurikulum PAUD dengan Kebutuhan Anak

Oleh: Umi Nadzifah M.Pd.I

Siapa yang tidak mengenal dengan definisi PAUD? tentu sudah menjadi hal yang mafhum bagi masyarakat Indonesia bukan? Pendidikan anak usia dini sebagai proses menuju pendidikan dasar sampai saat ini masih menuai banyak kritikan. Salah satunya tentang kurikulum PAUD. Yang sering menjadi pertanyaan salah satunya yaitu Apakah kurikulum pendidikan anak usia dini sudah sesuai dengan kebutuhan peserta didik?

Pertanyaan inilah yang ingin penulis kupas, karena banyak nada miring mengatakan, murid tanpa di sekolahkan di paud pun bisa, jika yang diajarkan hanya menyanyi, bermain, berhitung, menulis maupun membaca.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) 
Mungkin bagi praktisi atau stakeholder yang berhadapan langsung dengan anak, dengan tegas menjawab “JELAS”, kurikulum PAUD telah dirancang oleh beberapa pakar PAUD dan sudah benar-benar memenuhi kebutuhan siswa.

Namun, berbeda dengan para pengamat pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini, tentunya mereka sedikit memiliki pandangan yang lain, karena sering terdengar pula PAUD di anggap sebagai “golden age golden project”. Yang artinya masa usia emas anak adalah masa untuk menghasilkan uang terhadap sekelompok tertentu.

Inilah yang membuat penulis penasaran, karena bisa menjadi perkara yang membahayakan jika salah asuh. Bukan hanya uang, melainkan masa depan anak. Untuk itu, mari kita koreksi dan pelajari bersama tentang hakekat apa yang mejadi kebutuhan seorang anak pada masa usia dini.

Bicara tentang relevansi kurikulum PAUD terhadap kebutuhan anak, tentu kita perlu mendefinisikan terlebih dahulu makna dari kebutuhan dan apa yang menjadi kebutuhan pendidikan anak.

Definisi Kebutuhan
Secara bahasa kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar atau alasan bagi setiap individu untuk berusaha.

Bradshaw (1972) mengklasifikasi kebutuhan kedalam empat tipe yaitu kebutuhan normatif, (normative need), kebutuhan yang dinyatakan (expressed need), dan kebutuhan bandingan (comparative need). Burton dan merril( 1977) menambahkan satu tipe lagi, yaitu, kebutuhan yang diantisipasi atau kebutuhan masa depan (anticipated or future need). Dari ke empat tipe kebutuhan mari kita kupas satu persatu.

Kebutuhan Normatif
Kebutuhan normatif memiliki arti bahwa kebutuhan yang tumbuh dalam keadaan dibawah standar yang telah ditetapkan. Dalam bidang pendidikan anak usia dini, kebutuhan normatif terjadi seperti apabila kemampuan siswa di bawah standar rata-rata yang telah ditetapkan oleh lembaga pendidikan.

Kebutuhan yang dinyatakan
Kebutuhan yang dinyatakan hampir mirip dengan keperluan (demand).  Contoh jika anak saya belum punya tas baru untuk kesekolah, dikarenakan tahun ajaran baru dan banyak temannya yang memiliki, meskipun masih mempunyai tas yang lama, akhhirnya tas baru kami beli karena sudah menjadi kebutuhan yang dinyatakan.

Kebutuhan Bandingan
Kebutuhan bandingan itu akan muncul jika terjadi diskriminasi antar sesama pelajar. Contoh. Budi mendapatkan bimbingan khusus dikarenakan belum menguasai materi, sedangkan joko sama-sama belum menguasai namun tidak mendapatkan bimbingan khusus.

Kebutuhan Masa Depan
Kebutuhan masa depan adalah kebutuhan yang diproyeksikan untuk kepentingan masa depan. Contoh, pendidikan anak usia dini sebagai fasilitator agar anak mampu menguasai di pendidikan dasar. Jadi, sudah selayaknya anak didik yang lulus di PAUD harus mampu diantarkan untuk menguasai materi selajutnya yang ada di sekolah dasar.

Berdasarkan ke empat jenis kebutuhan tersebut, lantas mari kita pelajari apa yang menjadi kebutuhan dalam pendidikan anak. Mengutip pendapatnya knowless, kebutuhan pendidikan anak adalah sesuatu yang harus dipelajari oleh seseorang guna kemajuan kehidupan dirinya, lembaga yang ia masuki, dan atau untuk kemajuan masyarakat. (Knowless; 1977:85).

Kurikulum PAUD
Kurikulum berasal dari kata curriculum dalam bahasa inggris yang artinya rencana pelajaran. Curriculum sendiri berasal dari bahasa latin yaitu currere, yaitu berlari cepat, maju dengan cepat, menjalani dan berusaha untuk. Dalam bahasa arab, kurikulum disebut dengan manhaj yang memiliki arti jalan yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Kurikulum pendidikan dalam bahasa arab dikenal dengan manhaj al-dirasah yang artinya seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan sebagai acuan lembaga pendidikan untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. Sedangkan Menurut UU No. 20 Tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.


Sumber : Youtube

Relevansi Kurikulum
Berdasarkan dari beberapa penjelasan diatas terkait definisi kebutuhan pendidikan anak dan arti kurikulum secara umum. Tentu kita dapat menilai apakah kebutuhan pendidikan anak hanya sekedar menyanyi, bermain, berhitung, menulis maupun membaca?. Jawabannya tentu tidak.

Meurut penulis, menyanyi dan bermain merupakan bagian dari metode pembelajaran sedangkan materinya adalah berhitung, menulis dan membaca. Jika di dalam lembaga pendidikan anak usia dini Anda  masih mengajarkan ke tiga materi tersebut dan lebih memprioritaskan bermain dan bernyanyi sebagai metode, tentu mejadi kurang maksimal. Kenapa demikian ?.

Sesuai yang kita bahas bersama, Kebutuhan peserta didik adalah hal yang wajib terpenuhi. Dari Kebutuhan normatif, kebutuhan yang dinyatakan, kebutuhan bandingan dan kebutuhan kebutuhan masa depan harus benar-benar terfasilitasi dengan baik oleh lembaga. Jadi ada fungsi PAUD yang jelas dibanding dengan anak yang tidak sekolah di PAUD. Minimal selain cerdas dalam membaca, menulis dan berhitung. Anak pandai bersosialisasi, lebih percaya diri, memiliki rasa ingin tahu yang lebih dan mudah memahami materi.

Kebutuhan pendidikan anak yang diartikan Morris sebagai sesuatu yang ingin dipenuhi dan dianggap perlu, penting, atau harus dipenuhi dengan segera (Morris, 76 :878). Selain anak sebagai peserta didik, sudah selayaknya orang tua selaku yang telah mempercayakan anakknya, Guru sebagai pendidik, kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan, pemerintah dan masyarakat sebagai fungsi kontrol, bersama-sama sinergi, agar kebutuhan mereka benar-benar terpuaskan oleh lembaga pendidikan anak usia dini.

Dengan itu, kurikulum paud menjadi relevan karena telah memenuhi beberapa kebutuhan-kebutuhan orang banyak, bukan perorangan. Pendidikan Anak Usia Dini menjadi lembaga yang bukan berdiri sendiri, melainkan berdiri atas kebutuhan bersama untuk memenuhi kebutuhan normatif, kebutuhan yang dinyatakan, kebutuhan kebutuhan bandingan dan kebutuhan kebutuhan masa depan.   Bukankah demikian.

Jika ada yang ingin disampaikan, silahkan hubungi kami di :
HP  : 085727150339
WA  : 085727150339
BBM : DD5918C2

Mari kita diskusi dan belajar kembali, agar kebutuhan-kebutuhan anak bangsa bukan hanya terfasilitasi melainkan termotivasi oleh orang-orang di sekitarnya yang mereka sayangi.

Umi Nadzifah M.Pd.I
Dosen PAUD Sekaligus Konsultan Pendidikan Anak.